BOLMORA.COM, BOLSEL – Sampai dengan saat ini penanganan stunting di kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) sudah mencapai 37 persen. Sedangkan tahun 2021 ini, Pemkab Bolsel berencana akan menurunkan stunting hingga 12 persen. Hal ini, dikatakan oleh Kepala Bapilitbangda Bolsel Harifin Matulu, sekaligus Ketua Tim Penanganan Stunting, Rabu (16/6/202).
Menurutnya, ditahun 2021 ini direncanakan ada penurunan sampai dengan 12 persen. Sedangkan untuk 2022 mendatang, pihaknya akan berupaya hingga sampai 10 persen.
“Target itu untuk 32 desa dari 81 desa yang tersebar di 7 kecamatan yang ada di Kabupaten Bolsel. Ditahun 2021 ini harus mencapai 12 persen,” ujarnya.
Dikatakan pula, pihaknya melokuskan di 32 desa dari 81 desa yang ada di Bolsel. Karena yang banyak lokus stunting itu berada di 32 desa tersebut.
“Stunting ini merupakan suatu rujukan program prioritas tingkat pusat. Ini harus ditopang, dan daerah harus besinergi untuk penurunan stanting secara nasional,” ungkapnya.
Harifin juga mengatakan, saat ini Pemda Bolsel terus menekan angka stunting dari desa, dengan melakukan kerja sama dengan SKPD terkait penanganan stunting.
“Memang, dalam penanganan stunting ini tidak hanya satu SKPD saja, tapi ada beberapa. Seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Ketahanan Pangan, serta Dinas PUPR,” sebutnya.
Dalam penanganan stunting, pihaknya terus memperhatikan asupan gizi balita, ibu menyusui hingga ibu hamil. Tak hanya itu, juga memperhatikan lingkungan sekitar, terutama sanitasi.
“Asupan gizi anak harus terpenuhi dari sejak lahir hingga 1.000 hari,” kata Harifin.
Ia menambahkan, penanggulangan stunting juga tidak serta merta tugas pokok dari pemerintah daerah saja, tetapi harus ada kesadaran diri dari masyarakat untuk memperhatikannya.
“Ayo bergotong royong untuk Penanggulangan stunting, terlebih khusus bagi yang memiliki balita dan ibu hamil, rajinlah datang ke posyandu,” imbaunya.
(Nanda)
