13 Tahun Vaksin Palsu Beredar di Indonesia

0
435
Bahaya Vaksin PalsuPada Aanak Balita
13 Tahun Vaksin Palsu Beredar di Indonesia
Advertisement

13 Tahun Vaksin Palsu Beredar di Indonesia

Bareskrim Polri Terus Kembangkan Penyelidikan

BOLMORA, JAKARTA – Tanda awas bagi para ibu-ibu yang hendak membawa anaknya ke Posyandu atau Puskesmas untuk divaksin kekebalan tubuh bagi anak balita. Paslanya, baru terungkap ternyata saat ini beredar vaksin palsu yang bisa mebahayakan keselamatan anak balita.

Ironisnya, peredaran vaksin palsu ini ternyata sudah berlangsung sejak tahun 2003. Namun, sepak terjang komplotan vaksin palsu dalam mengedarkan vaksin yang dapat merusak generasi penerus ini baru terungkap tahun 2016, oleh otoritas yang berwenang. Artinya selama 13 tahun, telah banyak anak balita yang divaksin dengan vaksin buatan oknum-oknum tak bertanggung jawab. Namun untuk saat ini pihak Keplisian Republik Indonesia (Polri) tengah menyelidiki peredaran vaksin palsu, yang diduga telah diedarkan di seluruh Indonesia.

Menurut Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Mabes Polri Brigjen Pol Agung Setya, peredaran vaksin palsu baruterungkap dengan adanya laporan dari salah satu Rumah Sakit di Bogor, yang curiga dengan vaksin yang dikirimkan pihak  distributor. Setelah dicek di laboratorium, ternyata palsu.

“Baru terungkap, karena memang jika diperhatikan dampak dari vaksin ini tidak tampak. Sebab, reaksi untuk mebedakan vaksin palsu atau asli ketika diberikan ke anak balita tidak langsung tampak, nanti setelah ada kuman yang menyerang baru akan ketahuan bahwa anak balita tersebut tidak divaksin dengan vaksin asli,” jelas  Agung, saat diwawancarai wartawan di Bareskrim Mabes Polri, jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (27/06/2016).

Setelah mengetahuai adanya peredaran vaksin palsu, Bareskrim terus melakukan pengembangan dan langsung bergerak menggerebek CV Azka Medical, yang berkantor di Bekasi pada 16 Juni 2016, disusul rumah di Puri Bintaro, Kemang Pratama Regency, dan masih banyak lagi lokasi yang diduga tempat pembuatan dan peredaran vaksin palsu.

“Setelah melakukan penyelidikan, ternyata penjualan vaksin tanpa izin edar ini dikendalikan oleh tiga produsen, yakni Agus, Syariah, serta pasangan suami istri Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina. Harga vaksin palsu itu lebih miring, hanya Rp200 ribu-400 ribu dibandingkan harga vaksin asli yang mencapai Rp900 ribu. Namun, keran telah banyak yang diedarkan maka pembuat vaksin palsu meraup keuntungan hingga ratusan juta per bulan,” ungkap Agung.

Diakatan Agung, saat ini telah ditetapkan 15 tersangka dalam kasus peredaran vaksin palsu. Penetapan tersangka itu setelah dilakukan pengembangan dan penelusuran jaringan distributor vaksin palsu di beberapa kota di luar Jakarta. Seperti, Yogyakarta, Tanggerang Selatan (Banten), Subang dan Bekasi (Jabar), serta Semarang,

“Kita sudah menetapkan 15 tersangka yang terlibat kasus peredaran vaksin palsu. Kemarin, penyidik menahan tersangka berinisial T dan M di Semarang, yang juga bagian dari jaringan produsen vaksin palsu. Mereka berperan sebagai produsen, distributor, dan pembuat/pencetak label dan logo vaksin,” pungkasnya.

Selain itu, untuk pengembangan kasus penyidik Bareskrim juga memeriksa 18 saksi dari rumah sakit, apotek, toko obat, dan saksi yang terlibat pembuatan vaksin palsu. Hasilnya, terungkap empat rumah sakit di Jakarta serta dua apotek dan satu toko obat di Jakarta terlibat peredaran vaksin palsu.

Selain itu, Bareskrim telah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mengetahui warga pengguna vaksin. Mereka menanti pengaduan warga terkait vaksin palsu dan hasil uji laboratorium kandungan cairan vaksin palsu tersebut.

“Semua tersangka dikenai tindak pidana pencucian uang. Penyidik melacak semua aset tersangka. Para tersangka juga disangkakan pasal berlapis, karena melanggar Undang-undang (UU) Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan UU Nomor 8/1999 tentang  Pelindungan Konsumen,” urai Agung.(gun’s)

Sumber Kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here